Search Hotels

Check-in Date

calendar

Check-out Date

calendar

Minggu, 21 April 2013

Alun-Alun Kidul, Yogyakarta

Yogyakarta sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya tentunya memiliki berbagai tempat yang banyak dikunjungi, baik oleh warga Yogyakarta sendiri maupun warga pendatang baik yang menimba ilmu, bekerja maupun menetap di Kota Yogyakarta. Salah satu tempat tersebut adalah Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Alun-alun Kidul dalam Bahasa Indonesia berarti Alun-alun Selatan. Oleh warga Yogyakarta sendiri biasa disebut dengan nama Alkid. Alun-alun Kidul ini berada di belakang kompleks Keraton Yogyakarta, tepatnya berada di sebelah selatan dan memiliki "saudara" yang berada di depan atau di sebelah utara Keraton Yogyakarta yaitu Alun-alun Lor atau Alun-alun Utara Yogyakarta.

Menurut sejarah, keberadaan Alun-alun Kidul ini dibangun untuk mengubah bagian belakang keraton menjadi seperti bagian depan keraton. Hal tersebut dikarenakan apabila Gunung Merapi, Keraton Yogyakartan dan Laut Selatan Pulau Jawa (Pantai Parangtritis) ditarik dalam satu garis imajiner maka akan terbentuk satu garis lurus dan posisi Keraton Yogyakarta akan seperti membelakangi Laut Selatan. Oleh sebab itu dibangunlah Alun-Alun Kidul.

Alun-alun yang berada di pusat kota merupakan salah satu ciri bagi berbagai pusat kota lama di Pulau Jawa. Berdasarkan fungsi pada masanya, Alun-alun Kidul merupakan penyeimbang dari Alun-Alun Utara karena Alun-alun Utara yang merupakan tempat untuk berkumpul masyarakat yang mempunyai watak ribut sedangkan Alun-alun Kidul dianggap sebagai tempat palereman (istirahat) para dewa sehingga digunakan sebagai tempat untuk ngleremke ati (menentramkan hati) bagi masyarakat.

Dahulu, Alun-alun Kidul digunakan oleh prajurit keraton untuk latihan ketangkasan, seperti setonan (berkuda), manahan (memanah dengan bersila) dan rampok macan (adu manusia dengan harimau). Selain itu, mereka juga melakukan latihan konsentrasi yang disebut dengan masangin yaitu berjalan melewati kedua pohon beringin (ringin kurung) dengan menutup mata. Menurut kepercayaan, jika ada seseorang yang bisa melakukannya maka orang tersebut mempunyai hati bersih dan keinginannya akan terkabul.

Sekarang berbagai latihan ketangkasan yang dilakukan oleh prajurit keraton tersebut sudah tidak dapat dijumpai lagi di Alun-alun Kidul, yang tersisa hanya masangin. Namun masangin sekarang bukan dilakukan oleh prajurit keraton namun oleh pengunjung Alun-alun Kidul. Kebanyakan pengunjung melakukan masangin pada malam hari walaupun ada beberapa yang melakukannya pada siang hari.

Masangin bisa dilakukan oleh siapa saja dengan menutup mata menggunakan kain. Di pinggiran Alun-alun Kidul terdapat penyewaan kain penutup mata yang dapat disewa dengan harga Rp. 4.000. Bisa juga menggunakan kain penutup mata sendiri. Setelah mata ditutup, orang yang akan melakukan masangin diputar badannya sebanyak 7 kali dan berjalan menuju arah ringin kurung. Masangin biasanya dilakukan dengan berjalan dari arah utara ringin kurung.

Selama berjalan menuju ringin kurung jangan coba-coba untuk mengintip ya, karena menurut mitos, barangsiapa yang mengintip selama berjalan untuk masangin maka dia akan masuk ke alam lain dengan mendapati keadaan sekitar alun-alun yang sangat sepi dan tidak bisa kembali ke alam nyata. Boleh percaya boleh tidak namun yang pasti atraksi yang satu ini sangat seru dan patut kamu coba jika berkunjung ke Yogyakarta dan menyempatkan diri datang ke Alun-alun Kidul.

Suasana Alun-alun Kidul akan sangat terasa meriah mulai sore sekitar pukul 17:00 WIB hingga malam hari. Selain atraksi masangin, kamu juga bisa mencoba berkeliling Alun-alun Kidul menggunakan sepeda yang berhiaskan lampu warna warni ataupun becak mini yang banyak disewakan dengan tarif mulai dari Rp. 10.000 untuk 3 kali putaran. Bisa juga menyewa andong mini dengan tarif Rp. 10.000 untuk satu kali putaran. Ada pula odong-odong khusus untuk anak-anak.

Di seberang pinggir Alun-alun Kidul juga terdapat berbagai penjual makanan dan minuman. Jadi tak perlu khawatir jika kamu merasa haus dan lapar di sini. Kamu bisa duduk santai di tikar yang telah disediakan dan menikmati jagung bakar ataupun roti bakar ditemani wedang ronde yang hangat sambil melihat kemeriahan suasana Alun-alun Kidul pada malam hari.

Di pagi hari walaupun tidak semeriah suasana malam hari, di seberang pinggir Alun-alun Kidul juga terdapat berbagai penjual makanan yang didominasi oleh penjual lontong opor dan bubur ayam. Alun-alun Kidul pada pagi hari biasanya digunakan sebagai tempat untuk berolahraga. Sedangkan pada siang hari di seberang pinggirnya digunakan untuk berjualan klithikan yang bisa kamu jadikan referensi untuk berburu barang-barang langka. Kamu juga bisa menjumpai kuliner tradisional Yogyakarta pada siang hari di Alun-alun Kidul ini, yaitu brongkos. Terdapat warung makan yang menjual brongkos khas Yogyakarta tepat di selatan gapura Alun-alun Kidul.

Walau tidak seluas Alun-Alun Lor namun Alun-alun Kidul juga biasa dijadikan sebagai tempat berlangsungnya beberapa event, seperti panggung hiburan atau juga lomba burung berkicau. Di lokasi ini pula biasanya para prajurit Keraton Yogyakarta akan melakukan gladi resik sehari sebelum diadakannya acara Grebeg (acara untuk memperingati Maulid Nabi). Alun-alun Kidul ini berhadapan dengan Sasono Hinggil pada bagian utara. Pada waktu-waktu tertentu kamu bisa melihat pertunjukan wayang kulit yang digelar semalam suntuk.

Sebagai tempat untuk ngleremke ati pada jaman dahulu ternyata juga masih berlaku sampai sekarang terbukti dengan kemeriahan suasana yang disuguhkan Alkid bisa memberikan kedamaian tersendiri bagi para pengunjung. Mau tau seberapa meriahnya? Monggo sempatkan dirimu datang ke Alkid saat berada di Yogyakarta.


Comments
0 Comments

0 comments:

Posting Komentar

Kuliner

Artikel berikutnya »

Seni dan Budaya

Artikel berikutnya »

Tips Wisata

Artikel berikutnya »
 
Copyright © www.halowisata.com
Bantul, Yogyakarta, Indonesia
DMCA.com