Search Hotels

Check-in Date

calendar

Check-out Date

calendar

Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

Bendung Sapon, Yogyakarta

Ngomongin satu kota di Indonesia memang gak akan pernah habis untuk dibahas. Apalagi ngomongin Yogyakarta yang kaya akan seni, budaya dan berbagai obyek wisata yang pastinya selalu menarik minat para pengunjung. Kali ini kita akan jalan-jalan ke salah satu kabupaten yang ada di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kabupaten Kulonprogo.

Kabupaten Kulonprogo terkenal dengan memiliki Kali Progo (Sungai Progo) yang merupakan sungai terpanjang di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kali Progo juga menjadi obyek wisata menarik untuk dikunjungi. Selain itu, Kali Progo juga merupakan sumber bagi beberapa dam yang terdapat di Kulon Progo, salah satunya adalah dam yang bernama Bendung Sapon.

Bendung Sapon ini terletak di Dukuh Sapon, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Bendung Sapon merupakan sumber irigasi bagi daerah sekitar yang meliputi tiga kecamatan: Panjatan, Galur dan Temon. Ketiga kecamatan tersebut berada dalam satu wilaya di Kabupaten Kulon Progo dengan total wilayah irigasi seluas 2.250 hektar.

Bendung Sapon dibangun pada tahun 2005 dan selesai pada tahun 2008, namun baru diresmikan pada tanggal 11 Maret 2010 oleh Menteri Pekerjaan Umum yang pada waktu itu dijabat oleh Djoko Kirmanto. Pada awalnya, Bendung Sapon hanya bertujuan untuk mengembalikan fungsi jaringan irigasi yang sudah ada dan mengoptimalkan kebutuhan air di Kabupaten Kulon Progo khususnya untuk irigasi persawahan sekaligus sebagai pengendali elevasi dasar sungai di bagian hulu bendung. Namun dengan seiring berjalannya waktu, keberadaan Bendung Sapon juga berfungsi sebagai obyek wisata alternatif bagi warga sekitar.

Walaupun Bendung Sapon belum terkenal layaknya obyek wisata lainnya, namun tempat ini sudah banyak dikunjungi oleh warga sekitar maupun warga luar Kabupaten Kulon Progo. Berwisata ke Bendung Sapon, kamu akan merasakan kesejukan dan ketenangan. Sejauh mata memandang, kamu akan melihat luasnya aliran air yang mengalir dengan tenang dan hijaunya pepohonan rindang yang banyak terdapat di sekeliling Bendung Sapon. Sangat cocok untuk melepas kepenatan dan untuk refreshing.

Di sore hari, suasana ramai akan bisa dijumpai di sekitar Bendung Sapon. Banyak warga sekitar yang hang-out di pinggir Bendung Sapon sambil menikmati berbagai makanan yang dijajakan oleh para penjual makanan yang ikut meramaikan suasana. Panorama sunset yang indah dari Bendung Sapon juga bisa kamu nikmati. Jangan lupa untuk mengabadikan moment tersebut dalam jepretan kameramu.

Selain sebagai sarana irigasi dan obyek wisata, Bendung Sapon juga memiliki fungsi lain sebagai akses wilayah. Jembatan di atas Bendung Sapon ini menjadi salah satu jalur alternatif untuk menyingkat perjalanan. Lumayan lah bagi warga sekitar yang suka bepergian karena bisa menghemat waktu hingga 10 menit dengan melalui jalur ini.

Sabtu, 27 April 2013

Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Di bagian selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Hal tersebut menyebabkan provinsi ini memiliki obyek wisata berupa pantai yang bisa menarik banyak wisatawan. Salah satu wisata pantai yang terkenal di Yogyakarta adalah Pantai Parangtritis.

Pantai ini berjarak sekitar 29 km arah selatan dari kawasan Malioboro. Tepatnya berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Pantai Parangtritis dapat dicapai dengan mudah menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Jalan menuju ke arah pantai ini pun sudah beraspal dan datar.

Dikisahkan bahwa nama Parangtritis diberikan oleh seorang pelarian dari Kerajaan Majapahit yang bernama Dipokusumo. Dia bersemedi di kawasan ini. Saat bersemedi, dia melihat air tumaritis (menetes) di antara parang (batu karang). Dari hal tersebut kemudian tempat ini diberi nama Parangtritis.

Terdapat mitos ketika berkunjung ke Pantai Parangtritis dilarang untuk memakai pakaian berwarna hijau muda karena pantai ini diyakini oleh masyarakat sebagai wilayah kekuasaan Ratu Laut Selatan bernama Nyi Roro Kidul yang menyukai warna hijau muda.  Selain itu, Pantai Parangtritis juga merupakan perwujudan dari kesatuan trimurti bersama Gunung Merapi dan Keraton Yogyakarta. Dalam kisah lain disebutkan juga bahwa pantai ini merupakan tempat bertemunya Panembahan Senopati yang selesai bertapa dengan Sunan Kalijaga.

Pantai ini memang sarat dengan kisah mistis yang terus mengakar di kebudayaan Yogyakarta. Terbukti hingga sekarang masih banyak orang yang mengkeramatkan tempat ini sebagai tempat bermeditasi. Bahkan pantai ini selalu digunakan oleh Keraton Yogyakarta sebagai tempat melarung sesaji yang dikenal dengan nama labuhan.

Terlepas dari unsur mistis, Pantai Parangtritis menyimpan keeksotikan bagi para pengunjungnya. Di pantai ini merupakan spot yang indah untuk menyaksikan panorama cakrawala pada saat sunset. Panorama sunset di Pantai Parangtritis terbilang cukup eksotis dan romantis untuk disaksikan dengan ditemani suara deburan ombak dan semilir angin laut yang menerpamu apalagi jika kamu melihat sunset sambil menaiki andong kecil yang disebut bendi. Bendi ini akan membawamu berjalan-jalan menyusuri Pantai Parangtritis. Dengan Rp. 20.000, kamu sudah bisa menyusuri pantai bolak balik dengan bendi.

Kamu juga dapat menyewa motor ATV (all-terrain vehicle) di pantai ini. Biaya sewanya antara Rp. 50.000-100.000 per setengah jam. Terdapat pula para pedagang jagung bakar di area pinggiran pantai yang ikut meramaikan suasana sunset di Pantai Parangtritis. Mereka akan menemanimu hingga malam tiba.

Di pantai ini juga sering diadakan event paralayang maupun festival layang-layang baik skala nasional maupun internasional. Gumuk pasir yang menyerupai padang pasir di Afrika pun dapat kamu temukan di sekitaran pantai ini. Gumuk pasir ini pernah menjadi lokasi syuting video klip Agnes Monica dan Letto. Selain itu juga, banyak foto pre-wedding yang mengambil panorama gumuk pasir Pantai Parangtritis ini.

Untuk berenang di Pantai Parangtritis juga tidak diperbolehkan hingga ke tengah laut. Ada batasan area berenang yang tidak boleh kamu langgar karena akan membahayakan dirimu sendiri.

Tersedia toilet dengan air bersih yang dapat kamu gunakan untuk membilas diri selesai bermain di pantai. Jika ingin beristirahat, tersedia berbagai penginapan yang bertebaran di sekitar pantai dengan tarif mulai dari Rp. 40.000. Tak perlu khawatir kelaparan karena terdapat berbagai warung makan yang menyediakan makanan dan minuman di sekitar pantai.
Angkutan umum yang melayani jurusan hingga Pantai Parangtritis hanya tersedia hingga pukul 17:00 WIB. Jika ingin melihat keeksotikan sunset di Pantai Parangtritis sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan sewa. Tiket masuk ke Pantai Parangtritis sebesar Rp. 5.000 per orang.


Minggu, 21 April 2013

Alun-Alun Kidul, Yogyakarta

Yogyakarta sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya tentunya memiliki berbagai tempat yang banyak dikunjungi, baik oleh warga Yogyakarta sendiri maupun warga pendatang baik yang menimba ilmu, bekerja maupun menetap di Kota Yogyakarta. Salah satu tempat tersebut adalah Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Alun-alun Kidul dalam Bahasa Indonesia berarti Alun-alun Selatan. Oleh warga Yogyakarta sendiri biasa disebut dengan nama Alkid. Alun-alun Kidul ini berada di belakang kompleks Keraton Yogyakarta, tepatnya berada di sebelah selatan dan memiliki "saudara" yang berada di depan atau di sebelah utara Keraton Yogyakarta yaitu Alun-alun Lor atau Alun-alun Utara Yogyakarta.

Menurut sejarah, keberadaan Alun-alun Kidul ini dibangun untuk mengubah bagian belakang keraton menjadi seperti bagian depan keraton. Hal tersebut dikarenakan apabila Gunung Merapi, Keraton Yogyakartan dan Laut Selatan Pulau Jawa (Pantai Parangtritis) ditarik dalam satu garis imajiner maka akan terbentuk satu garis lurus dan posisi Keraton Yogyakarta akan seperti membelakangi Laut Selatan. Oleh sebab itu dibangunlah Alun-Alun Kidul.

Alun-alun yang berada di pusat kota merupakan salah satu ciri bagi berbagai pusat kota lama di Pulau Jawa. Berdasarkan fungsi pada masanya, Alun-alun Kidul merupakan penyeimbang dari Alun-Alun Utara karena Alun-alun Utara yang merupakan tempat untuk berkumpul masyarakat yang mempunyai watak ribut sedangkan Alun-alun Kidul dianggap sebagai tempat palereman (istirahat) para dewa sehingga digunakan sebagai tempat untuk ngleremke ati (menentramkan hati) bagi masyarakat.

Dahulu, Alun-alun Kidul digunakan oleh prajurit keraton untuk latihan ketangkasan, seperti setonan (berkuda), manahan (memanah dengan bersila) dan rampok macan (adu manusia dengan harimau). Selain itu, mereka juga melakukan latihan konsentrasi yang disebut dengan masangin yaitu berjalan melewati kedua pohon beringin (ringin kurung) dengan menutup mata. Menurut kepercayaan, jika ada seseorang yang bisa melakukannya maka orang tersebut mempunyai hati bersih dan keinginannya akan terkabul.

Sekarang berbagai latihan ketangkasan yang dilakukan oleh prajurit keraton tersebut sudah tidak dapat dijumpai lagi di Alun-alun Kidul, yang tersisa hanya masangin. Namun masangin sekarang bukan dilakukan oleh prajurit keraton namun oleh pengunjung Alun-alun Kidul. Kebanyakan pengunjung melakukan masangin pada malam hari walaupun ada beberapa yang melakukannya pada siang hari.

Masangin bisa dilakukan oleh siapa saja dengan menutup mata menggunakan kain. Di pinggiran Alun-alun Kidul terdapat penyewaan kain penutup mata yang dapat disewa dengan harga Rp. 4.000. Bisa juga menggunakan kain penutup mata sendiri. Setelah mata ditutup, orang yang akan melakukan masangin diputar badannya sebanyak 7 kali dan berjalan menuju arah ringin kurung. Masangin biasanya dilakukan dengan berjalan dari arah utara ringin kurung.

Selama berjalan menuju ringin kurung jangan coba-coba untuk mengintip ya, karena menurut mitos, barangsiapa yang mengintip selama berjalan untuk masangin maka dia akan masuk ke alam lain dengan mendapati keadaan sekitar alun-alun yang sangat sepi dan tidak bisa kembali ke alam nyata. Boleh percaya boleh tidak namun yang pasti atraksi yang satu ini sangat seru dan patut kamu coba jika berkunjung ke Yogyakarta dan menyempatkan diri datang ke Alun-alun Kidul.

Suasana Alun-alun Kidul akan sangat terasa meriah mulai sore sekitar pukul 17:00 WIB hingga malam hari. Selain atraksi masangin, kamu juga bisa mencoba berkeliling Alun-alun Kidul menggunakan sepeda yang berhiaskan lampu warna warni ataupun becak mini yang banyak disewakan dengan tarif mulai dari Rp. 10.000 untuk 3 kali putaran. Bisa juga menyewa andong mini dengan tarif Rp. 10.000 untuk satu kali putaran. Ada pula odong-odong khusus untuk anak-anak.

Di seberang pinggir Alun-alun Kidul juga terdapat berbagai penjual makanan dan minuman. Jadi tak perlu khawatir jika kamu merasa haus dan lapar di sini. Kamu bisa duduk santai di tikar yang telah disediakan dan menikmati jagung bakar ataupun roti bakar ditemani wedang ronde yang hangat sambil melihat kemeriahan suasana Alun-alun Kidul pada malam hari.

Di pagi hari walaupun tidak semeriah suasana malam hari, di seberang pinggir Alun-alun Kidul juga terdapat berbagai penjual makanan yang didominasi oleh penjual lontong opor dan bubur ayam. Alun-alun Kidul pada pagi hari biasanya digunakan sebagai tempat untuk berolahraga. Sedangkan pada siang hari di seberang pinggirnya digunakan untuk berjualan klithikan yang bisa kamu jadikan referensi untuk berburu barang-barang langka. Kamu juga bisa menjumpai kuliner tradisional Yogyakarta pada siang hari di Alun-alun Kidul ini, yaitu brongkos. Terdapat warung makan yang menjual brongkos khas Yogyakarta tepat di selatan gapura Alun-alun Kidul.

Walau tidak seluas Alun-Alun Lor namun Alun-alun Kidul juga biasa dijadikan sebagai tempat berlangsungnya beberapa event, seperti panggung hiburan atau juga lomba burung berkicau. Di lokasi ini pula biasanya para prajurit Keraton Yogyakarta akan melakukan gladi resik sehari sebelum diadakannya acara Grebeg (acara untuk memperingati Maulid Nabi). Alun-alun Kidul ini berhadapan dengan Sasono Hinggil pada bagian utara. Pada waktu-waktu tertentu kamu bisa melihat pertunjukan wayang kulit yang digelar semalam suntuk.

Sebagai tempat untuk ngleremke ati pada jaman dahulu ternyata juga masih berlaku sampai sekarang terbukti dengan kemeriahan suasana yang disuguhkan Alkid bisa memberikan kedamaian tersendiri bagi para pengunjung. Mau tau seberapa meriahnya? Monggo sempatkan dirimu datang ke Alkid saat berada di Yogyakarta.


Selasa, 16 April 2013

Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta

Yogyakarta yang dahulu pernah menjadi ibukota negara Republik Indonesia menyimpan banyak bukti sejarah yang dapat kamu kunjungi. Salah satunya adalah Monumen Serangan Umum 1 Maret yang berlokasi di sebelah selatan Benteng Vredeburg, berada persis di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta yang berada di kawasan titik nol kilometer Yogyakarta atau sederet dengan kawasan Malioboro, tepatnya berada di bagian paling ujung selatan di sebelah timur jalan. Bangunan ini merupakan saksi bisu sejarah perjuangan yang pernah terjadi di Yogyakarta.  

Monumen ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1973. Pemberian nama Monumen Serangan Umum 1 Maret dimaksudkan untuk mengenang peristiwa serangan umum yang pernah terjadi di Yogyakarta, khususnya tempat ini pada tanggal 1 Maret 1949 antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Belanda.

Pada waktu itu Belanda yang menahan para pemimpin Indonesia menyebarkan kabar bahwa Republik Indonesia beserta Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah runtuh. Hal tersebut menyulut semangat para pahlawan untuk bangkit dan berjuang membuktikan kepada dunia luar bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan untuk melawan Belanda. Penyerangan oleh tentara TNI pada waktu itu dipimpin oleh Letnan Kolonel suharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III yang telah mendapatkan persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menjabat sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta pada saat itu.

Penyerangan tersebut dimulai dengan aksai sabotase seperti memutus jaringan telepon, merusak rel kereta api dam menyerang konvoi Belanda. Belanda akhirnya mendirikan pos-pos yang tersebar di sepanjang jalan-jalan besar yang menghubungkan kota-kota yang telah berhasil diduduki. Namun akhirnya pos-pos tersebut diserang oleh pasukan tentara TNI. Puncak penyerangan tersebut terjadi pada tanggal 1 Maret 1949 pukul 06:00 WIB. Tentara TNI berhasil menduduki Kota Yoyakarta selama 6 jam. Penyerangan tersebut berdampak pada dunia luar yang menyadari bahwa Republik Indonesia belum runtuh. Hal tersebut tidak lepas dari keberadaan Kota Yogyakarta yang pada waktu itu menjadi ibukota negara Republik Indonesia.

Monumen ini telah menjadi salah satu cagar budaya provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, monumen ini juga merupakan tempat wisata sejarah bagi siapa saja yang berkunjung ke sini dan sering dijadikan sebagai tempat untuk menggelar acara-acara tertentu terutama acara hari besar nasional seperti Hari Kemerdekaan ataupun Hari Pahlawan.

Saat ini di sekitar kawasan Monumen Serangan Umum 1 Maret telah ramai dengan adanya berbagai komunitas maupun pecinta seni yang sering menggelar berbagai acara di sekitar tempat ini. Suasana sekitar monumen akan terasa hidup ketika malam hari tiba. Monumen ini akan berhiaskan lampu yang menyorotinya dengan taman-taman di sekeliling dan lampu-lampu kota yang turut mempercantik. Jika berada di monumen ini pada siang hari, kamu bisa berjalan ke arah timur dengan menyusuri trotoar maka kamu bisa sekaligus mengunjungi Taman Pintar Yogyakarta.

Rabu, 10 April 2013

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Lokasi : Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 6 Yogyakarta Indonesia 55122
Telp : +62-274-586934, 510996
Waktu Buka : Selasa-Jumat pukul 08:00-15:30 WIB
                      Sabtu-Minggu pukul 08:00-16:00 WIB
                      Senin tutup
Tiket Masuk : Rp. 2.000 per orang

Benteng Vredeburg merupakan salah satu peninggalan Belanda yang berada di kawasan Malioboro yang saat ini digunakan sebagai tempat wisata sejarah di Yogyakarta. Tempat wisata berupa benteng ini diresmikan dengan nama Museum Benteng Yogyakarta pada tanggal 23 November 1992 dan menjadi salah satu museum khusus perjuangan nasional. Letak Museum Benteng Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Museum Benteng Vredeburg ini berhadapan dengan Gedung Agung.

Saat mengunjungi Museum Benteng Vredeburg ini, kamu akan serasa seperti berada pada masa kolonial Belanda karena tempat wisata yang satu ini memiliki bangunan dengan gaya Eropa. Menurut sejarah, Museum Benteng Vredeburg ini merupakan benteng pertahanan dan pusat pemerintahan Belanda yang dibangun oleh VOC pada tahun 1765. Benteng ini dibangun berbentuk persegi dengan dikelilingi parit dan memiliki menara pantau di setiap sudutnya yang masih bisa dilihat hingga saat ini.

Suguhan utama Museum Benteng Vredeburg ini adalah 4 gedung diorama yang masing-masing berisi tentang peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia pada umumnya dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada khususnya. Terdapat fasilitas penunjang di tempat wisata ini, seperti kantin, musholla, restoran dan coffe shop. Selain itu terdapat pula layar panduan wisata di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memanfaatkan teknologi layar sentuh. Dari layar panduan wisata ini kamu dapat mencari tau mengenai petunjuk jalan, informasi wisata kuliner dan akomodasi wisata selama di Yogyakarta. Dijamin gak akan nyesel deh berwisata ke tempat ini karena selain menambah pengetahuan, tempat ini juga banyak memiliki spot menarik yang bisa kamu abadikan dalam kameramu.



Kuliner

Artikel berikutnya »

Seni dan Budaya

Artikel berikutnya »

Tips Wisata

Artikel berikutnya »
 
Copyright © www.halowisata.com
Bantul, Yogyakarta, Indonesia
DMCA.com