Search Hotels

Check-in Date

calendar

Check-out Date

calendar

Tampilkan postingan dengan label papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label papua. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2013

Danau Sentani, Jayapura

Papua sebagai provinsi paling timur di Indonesia memiliki berbagai potensi alam yang sangat menarik sebagai obyek wisata. Apalagi keadaan alamnya masih banyak yang belum tersentuh oleh tangan-tangan jahil. Obyek wisata alam yang masih asri bisa ditemui di Jayapura. Walaupun merupakan ibukota provinsi, namun Jayapura juga memiliki keindahan alam yang mempesona. Salah satu keindahan alam tersebut bernama Danau Sentani.

Danau seluas 9.360 hektar ini menjadikan Danau Sentani sebagai danau terbesar di Papua. Danau Sentani terletak di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cycloops yang terbentang di antara Kota Jayaputa dan Kabupaten Jayapura di atas ketinggian sekitar 75 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kata Sentani merupakan sebuah kata yang diucapkan oleh seorang pendeta Kristen bernama BL Bin saat melakukan misionaris di kawasan danau ini pada tahun 1898. Sentani mempunyai arti di sini kami tinggal dengan damai.

Danau Sentani menjadi obyek wisata kebanggaan masyarakat Papua. Terdapat 22 pulau kecil yang berada di kawasan danau ini. Dari keseluruhan pulau tersebut, terdapat 24 desa yang dihuni oleh penduduk setempat. Penduduk yang menghuni kawasan danau ini terkenal ramah dan hasil kerajinan tangan yang mereka buat merupakan kerajinan terbaik di Papua. Bahkan setiap tahunnya di danau ini diadakan Festival Danau Sentani yang berlangsung pada pertengahan bulan Juni. Acara festival ini menampilkan berbagai tarian di atas perahu, tari perang khas Papua, upacara adat, pameran kerajinan hingga kuliner khas Papua.

Pemandangan alam di sekeliling danau pun terlihat sangat mempesona bagi siapa saja yang datang ke sini. Untuk menikmati pemandangan dan berinteraksi dengan penduduk di Danau Sentani ini, kamu bisa menyewa perahu untuk berkeliling danau. Mendatangi desa-desa di sekitar danau juga merupakan hal yang seru untuk dilakukan karena dari setiap desa tersebut memiliki adat yang berbeda tetapi berasal dari beberapa budaya yang sama. Hal tersebut bisa dilihat dari upacara ritual mereka yang disebut dengan Isolo. Isolo merupakan upacara adat yang bertujuan untuk menyatukan perbedaan budaya dari 24 desa yang berada di sekitar Danau Sentani. Upacara adat ini bisa kamu saksikan pada saat perayaan Festival Danau Sentani.

Kamu juga bisa mendatangi Pulau Asei yang merupakan salah satu rumah seniman yang berada di kawasan Danau Sentani. Kain kulit merupakan kerajinan yang terkenal dari pulau ini. Di Desa Doyo Lama merupakan tempat yang cocok untuk menemukan seni lukisan batu. Sedangkan di Desa Taturi terdapat lukisan batu yang menarik untuk dikunjungi. Di sekitar danau ini pun tersebar sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II. Ada pula sebuah monumen di salah satu bukit di kawasan danau yang bernama Gunung Ifar. Monumen ini dibangun untuk memperingati komando militer Amerika yang bernama Jenderal McArthur. Dari tempat ini kamu bisa melihat pemandangan Danau Sentani yang menakjubkan.

Selain berkeliling danau, kamu juga bisa berenang, memancing, menyelam, ski air dan menikmati eksotika kuliner khas Papua. Danau Sentani memiliki keragaman biota laut yang bisa dinikmati oleh para wisatawan, terlebih danau ini juga dimanfaatkan sebagai tempat budidaya ikan air tawar. Terdapat sekitar 30 spesies ikan air tawar di Danau Sentani. Di antara ke 30 spesies tersebut, empat spesies ikan tersebut menjadi ikan endemik Danau Sentani: ikan hiu gergaji (Pristis microdon), ikan gabus sentani (Oxyeleotris heterodon), ikan pelangi sentani (Chilatherina sentaniensis) dan ikan pelangi merah (Glossolepis incisus). Namun ikan gabus sentani merupakan endemik yang mengalami penyusutan populasi. Hal tersebut terjadi karena telur ikan ini banyak dimakan oleh ikan gabus dari jenis lain. Sedangkan ikan hiu gergaji merupakan ikan asli Danau Sentani dan menjadi ornamen adat pada ukiran kayu khas Papua. Namun ikan ini diperkirakan sudah punah.

Lokasi Danau Sentani yang berada tak jauh dari ibukota provinsi menjadikannya mudah dijangkau oleh siapa saja. Jika kamu merencanakan mengunjungi Danau Sentani terutama pada saat berlangsungnya acara Festival Danau Sentani, kamu bisa melakukan penerbangan dengan tujuan Bandara Sentani, Jayapura. Dari Bandara Sentani kamu bisa melanjutkan perjalanan menuju Danau Sentani dengan menggunakan ojeg, taksi maupun menyewa kendaraan. Jarak yang ditempuh hanya sekitar 15 menit. Terdapat beberapa penginapan di sekitar Danau Sentani, namun jika menginginkan pilihan yang lengkap bisa menuju ke Kota Jayapura.

Jumat, 19 April 2013

Desa Tablanusu, Papua

Lokasi: Kecamatan Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Indonesia.

Tablanusu merupakan sebuah desa nelayan yang telah dijadikan sebagai salah satu desa wisata di Papua. Desa ini memiliki keindahan dan keunikan yang dapat dinikmati saat berkunjung. Siapa saja yang berkunjung ke obyek wisata yang ini pasti akan dibuat berdecak kagum.

Tablanusu mempunyai arti tempat matahari terbenam. Pemberian nama ini berkaitan erat dengan sejarah keberadaan desa wisata ini. Menurut cerita, dahulu nenek moyang desa ini berpindah tempat sebanyak dua kali. Awalnya nenek moyang desa ini menghuni dua pulau di teluk yang berada tak jauh dari tempat tinggal yang kedua. Suatu waktu terjadi tsunami yang menyapu wilayah mereka dan menyebabkan mereka berpindah tempat ke wilayah yang lebih aman. Saat berpindah tempat itulah mereka membentuk suatu perkampungan baru yang disebut dengan nama Kampung Tua. Di Kampung Tua tersebut mereka bekerja sebagai peladang yang memiliki pisang dan umbi-umbian sebagai komoditas tanaman utama. Seiring berjalannya waktu, penduduk kampung ini semakin bertambah yang menyebabkan berkurangnya lahan untuk berladang. Dikarenakan oleh hal tersebut, merekapun memutuskan untuk berpindah tempat lagi. Akhirnya mereka menemukan lokasi yang cocok dan memberi nama lokasi tersebut dengan nama Tablanusu. Saat menghuni Tablanusu ini, mereka sudah tidak lagi bekerja sebagai peladang melainkan berganti menjadi nelayan.

Desa wisata ini memiliki keunikan yang lain daripada yang lain karena seluruh wilayah desa ini tertutup oleh kerikil hitam yang mengkilap. Konon kerikil-kerikil hitam tersebut sudah ada sejak nenek moyang Tablanusu memutuskan untuk berpindah tempat ke sini. Hamparan kerikil hitam tersebut jika diinjak akan menimbulkan suara seperti isak tangis. Hal tersebut membuat desa ini mendapat sebutan sebagai Desa Batu Menangis. Jika berkunjung ke desa Tablanusu, cobalah untuk melepas alas kaki dan berjalan di atas hamparan kerikil untuk merasakan sentuhan pijat refleksi alam.

Ruang lingkup wisata di desa ini terbagi terbagi ke dalam beberapa wisata :
a. Wisata Alam
Terdapat hutan desa dimana dapat menemukan berbagai jenis tanaman dan mendengarkan merdunya kicauan aneka burung. Ada pula Danau Dukumbo yang masih sangat alami dimana terdapat berbagai jenis ikan seperti ikan bandeng (chanos chanos), ikan mujair (oreochromis mossambicus), dan ikan mas (cyprinus carpio). Tak jauh dari desa ini terdapat dua pulau yang banyak ditumbuhi oleh bunga anggrek. Saat senja tiba, berbagai jenis burung terbang menuju kedua pulau tersebut untuk singgah. Pemandangan sunset pun semakin menawan dengan siluet berbagai burung tersebut yang hinggap berjejer di ranting pepohonan.

Untuk wilayah perairannya, Desa Tablanusu memiliki panorama pantai yang indah ditemani oleh air laut yang bening dan tenang sehingga aman untuk berenang. Menyelam juga merupakan kegiatan yang mengasyikkan saat berada di pantai Desa Tablanusu yang mempunyai beragam keindahan biota laut terutama terumbu karang yang masih terjaga kelestariannya ditambah dengan ikan berwarna warni yang hilir mudik menambah indahnya pemandangan alam bawah lautnya. Jika ingin berburu ikan di wilayah perairan ini, kamu dapat memancing atau menggunakan cara tradisional yaitu dengan tombak atau panah air. Untuk berburu ikan secara tradisional, dapat dilakukan bersama dengan nelayan Desa Tablanusu yang pergi berburu ikan pada malam hari. 

b. Wisata Budaya
Di Desa Tablanusu terdapat sepuluh suku yang terbagi secara adat : Suku Sumile, Danya, Suwae, Apaserai, Serantow, Wambena, Semisu, Selli, Yufuwai, dan Yakurimlen. Ketika berkunjung ke desa wisata ini maka masyarakat Desa Tablanusu akan memberikan sambutan yang hangat dan bersahabat. Membaur dan mengakrabkan diri dengan masyarakat Desa Tablanusu sangatlah mudah, hanya dengan sebuah pinang karena masyarakat di desa wisata ini juga senang mengkonsumsi pinang selayaknya masyarakat Papua pada umumnya. 

Masyarakat Desa Tablanusu juga mengadakan acara ritual ruwatan yang diadakan setahun atau dua tahun sekali untuk meruwat lokasi perairan yang mempunyai banyak terumbu karangnya. Acara ritual ini dilakukan untuk melestarikan laut agar selalu mendapatkan berkah dari laut dan masyarakat desa ini biasanya menggelar dua acara ritual : ritual Sasi dan ritual Tiyatiki. Ritual Sasi dilakukan dengan cara menancapkan dahan pohon kayu besi di tempat-tempat yang terdapat banyak ikan, terutama di tempat yang mempunyai banyak terumbu karang. Untuk ritual Tiyatiki sendiri merupakan acara ritual yang melarang untuk  menangkap ikan selama beberapa hari dalam waktu yang telah ditentukan.

c. Wisata Sejarah
Banyak sisa-sisa peninggalan sejarah yang terdapat di desa seluas 230,5 hektar ini. Tanki-tanki minyak, landasasan meriam dan dermaga bekas pendaratan tentara sekutu merupakan peninggalan tentara sekutu pada masa Perang Dunia II yang dapat ditemui saat berwisata ke desa ini. Obyek wisata sejarah lainnya yang dapat ditemukan di Tablanusu antara lain sebuah makam yang berada di dekat gereja yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai makam salah satu tokoh masyarakat dan merupakan seorang pendiri gereja. Ada juga sebuah monumen salib yang merupakan lambang untuk mengenang sejarah masuknya agama Kristen ke Tablanusu pada sekitar tahun 1900.

Di desa wisata ini juga telah tersedia beberapa fasilitas wisata seperti pemandu wisata, gereja, persewaan perahu, pasar ikan dan berbagai warung yang menyediakan beraneka makanan, minuman dan souvenir khas masyarakat Desa Tablanusu. Tidak ada penginapan di Desa Tablanusu, namun jika ingin menginap di desa wisata ini dapat menyewa rumah-rumah penduduk sambil membaur dengan kehidupan asli mereka yang akan membuat kunjungan wisata di desa ini menjadi lebih berkesan. Atau dapat pula mendirikan tenda untuk berkemah, menginap di alam Desa Tablanusu yang bisa dilakukan di beberapa lokasi seperti di tepi sungai maupun di tepi danau.

Jika berencana berwisata ke Desa Tablanusu ini, dapat memulainya dari Kota Jayapura menggunakan bus yang menuju Kota Sentani yang berjarak sekitar 33 km. Setiba di Kota Sentani dilanjutkan dengan menggunakan bus atau menyewa mobil menuju Dermaga Depapre yang memakan waktu sekitar 2 jam. Kemudian dari Dermaga Depapre dilanjutkan menuju Dermaga Tablanusu yang memakan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan perahu bermesin. Selama perjalanan menyusuri perairan menuju Dermaga Tablanusu yang merupakan satu-satunga pintu masuk ke desa wisata Tablanusu ini akan disuguhi pemandangan alam yang masih sangat alami, asri dan eksotik yang akan membuatmu terkesima. Selain itu, air yang jernih dan bersih serta barisan perbukitan dan pegunungan dengan udara yang bersih dan sejuk siap menemanimu sepanjang perjalanan ini. Sesampainya di Dermaga Tablanusu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan menuju Desa Tablanusu dan bersiaplah melihat keramahan, keindahan dan keunikan desa wisata yang berada di timur Indonesia ini.



Kuliner

Artikel berikutnya »

Seni dan Budaya

Artikel berikutnya »

Tips Wisata

Artikel berikutnya »
 
Copyright © www.halowisata.com
Bantul, Yogyakarta, Indonesia
DMCA.com